SOCIAL MEDIA

Thursday, September 26, 2019

Sensory Play Dengan Water Beads, Amankah?

Hiii, kali ini aku mau berbagi pengalaman mengajak Anbiya bermain water beads.
Water beads ini salah satu mainan sensory play, bentuk asalnya bulat kecil yang jika direndam air dalam waktu yang ditentukan (sekitar 4 jam atau lebih) akan menyerap air tersebut dan menjadi besar. 
Water beads ini banyak dijual di e-commerce dengan harga yang murmerrr.

Yang membuat water beads ini menarik adalah warnanya yang cerah dan beragam, bentuknya yang bisa diremat-remat.
Manfaat bermain water beads, seperti sensory play atau pengenalan tekstur, mengenal warna, color sorting, transferring, dll. Favorit Anbiya adalah transferring water beads ini ke dalam wadah lain.


Tapi, apakah water beads ini aman?

Awal aku beli water beads sebenarnya udah agak lama, pas Anbiya umur 12 bulan. Tapi gak langsung aku buka. Aku simpan aja dulu, karena saat itu Anbiya masih ngalamin fase oral. Aku khawatir kalau water beads ini malah dimasukin mulut dan ketelan sama Anbiya. 

Akhirnyaa, aku buka dan ngenalin water beads pertama kali ini ke Anbiya pas umur 18 bulan, karena di umur segitu Anbiya udah gak gitu tertarik memasuki benda ke dalam mulut.

Water beads yang berwarna-warni ini sukses menarik perhatian Anbiya. Dipegang-pegang rasanya dingin dan kenyal karena mengandung air.
Btw, satu kantung plastik water beads itu kalau direndam jadinya buanyaakk banget lhoo. Aku dulu langsung semuanya ku rendam, alhasil aku merasa kebanyakan hahaha.

Tapi makin lama bermain water beads, aku jadi merasa khawatir. Walaupun Anbiya udah gak begitu suka masukin benda ke dalam mulut, tetep aja aku merasa khawatir kalau-kalaauuu gak sengaja kemakan. Takut gak bisa tercerna, atau malah membesar di saluran pencernaan karena water beads ini menyerap air dan jadi bikin sumbatan di pencernaan. Huhuu.
Namanya juga masih bayi 1.5 tahun kan. Apalagi tahu kita larang, makin penasaran pengin dicoba.

Akhirnya daripada resah terus tiap main water beads, aku buang deh. Hikss.
Buang bertahap. Sampai akhirnya buang semua πŸ˜‚
Soalnya Anbiya tiap liat water beads, dia langsung merengek minta main ituu..
Maaf yah nak, kita main sensory play yang lain aja yaa. Yang gak bikin hati mama resah dan lebih aman untuk kamu. Hwahaa emak-emak parnoπŸ˜…
Tapi beneran, aku gak mau nunggu ada apa-apa dulu baru ku buang. Pikir ku saat itu 😌

Tapii, buat ibu-ibu yang kasih water beads untuk main anaknya, ya gpp juga. Gak ada yang ngelarang. Asal bener-bener diawasin yaaa...
Kalau aku moon maap, suka kebanyakan meleng πŸ€­πŸ˜…

Dulu beli karena lucu aja liatnya, tapi sekarang pas udah dicoba.. kurang cocok water beads ini untuk mama parnoan kayak aku. Hehee.
Mungkin water beads ini lebih cocok untuk anak yang lebih besar > 4 tahun gituu kali yaa, yang udah lebih ngerti..

Monday, September 23, 2019

Review Mamypoko Royal Soft. Bagus Mana Sama Sweety Gold?

Hiii, kali ini aku mau review secara singkat salah satu merk popok premium untuk bayi, yaitu Mamypoko Royal Soft.

Aku beli Mamypoko Royal Soft ini karena popok Sweety Gold yang biasa dipakai Anbiya lagi kosong. Jadi laah akhirnya aku beli Mamypoko Royal Soft untuk sementara. Dan di review kali ini aku akan membandingkan keduanya, kira-kira lebih bagus yang mana yaa? 


Dari segi harga, beda tipis antara Mamypoko Royal Soft dan Sweety Gold. Kalau dihitung Mamypoko Royal Soft itu kisaran Rp 3.500/pc, sedangkan Sweety Gold Rp 3.000/ pc.
Kalau harga ini tergantung juga belinya di mana yaa. 


Dari segi penampakan, desain Mamypoko Royal Soft cute banget! Warna biru untuk boys, pink untuk girls. Gambarnya Winnie The Pooh full depan dan belakang.

       Bagian depan-belakang Mamypoko Royal Soft (kiri)  , Sweety Gold (kanan)

Dan sesuai dengan namanya “Royal Soft”, emang beneran kesan pertama saat aku pegang ini popok haluuusss buangeett dan karet pinggangnya sangat elastis.
Ada disposable tape-nya juga untuk menggulung popok sebelum dibuang.


Namun untuk ukuran popok premium seperti ini, sayang sekali tidak ada wetness indicator-nya. But it’s okay lah, lalu yang terpenting bagaimana dengan daya serapnyaaa??

Bagian dalam Mamypoko Royal Soft ini juga halus, dengan permukaan yang berbentuk garis-garis cenderung rata.
Kalau daya serapnya menurutku B aja. Kalau aku cek, pipisnya masih suka kayak ‘ngeyembeng’ haha apa ya istilahnya. Gak terserap sempurna, masih terasa lembap gitu kalau ku pegang. Huhuu

Berbeda dengan Sweety Gold yang memiliki permukaan diamond layer, membuat Sweety Gold ini JUARA banget daya serapnya apalagi saat dijadikan overnight pants dan andalan ketika sedang dalam perjalanan.

       Perbandingan bagian dalam Mamypoko Royal Soft (kiri) cenderung rata, Sweety Gold (kanan) diamond layers.

So, in conclusion. Menurut pengalaman pribadi ku yaa terhadap dua popok premium ini..

Mamypoko Royal Soft
+ karet pinggang super halus bangeeett dan elastis, tidak membuat ruam di kulit bayi
+ fit di tubuh bayi
+ ada disposable tape
+ desain cute
- tidak ada wetness/ pee indicator
daya serap kurang maksimal, ketika dipegang bagian permukaan masih terasa basah lembap

Sweety Gold
+ karet pinggang halus dan elastis, tidak membuat ruam juga
+ fit di tubuh bayi
+ ada disposable tape
+ ada wetness/ pee indicator
+ daya serapnya bagus, tidak lembap dan tidak pernah bocor

Ok cukup sekian. Semoga bermanfaat.😊


Btw, yang perlu diingat juga, mau sebagus apapun klaim itu popok, yang terpenting adalah yang cocok di anak masing-masing yaa...😊

Sunday, September 22, 2019

Trip ke Solo

Satu minggu yang lalu, kami sekeluarga pergi ke Solo untuk menemani Ibu mertua berobat. Sebelumnya, Ibu sudah menjalani beberapa pemeriksaan di Jakarta seperti MRI dan X-Ray, hasilnya Ibu harus menjalankan operasi tulang belakang.

Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan pengobatan/ second opinion dan rencana operasi di RS khusus bedah di Solo. Selain di sana dokter bedahnya sudah berpengalaman dalam bedah orthopedi, juga dari segi biaya lebih murah.
Sebagai gambaran, di Jakarta perkiraan biaya untuk operasi membutuhkan biaya yang sama dengan harga satu buah mobil honda jazz. Hehe. Sedangkan di Solo hanya setengahnya saja.
Selain dari biaya, banyak keluarga dan kerabat yang memang merekomendasikan untuk operasi di Solo saja karena sudah terkenal, dokternya-dokternya bagus, dan juga familiar banyak kenalan yang pernah op di sana.

Maka, berangkatlah kami road trip menuju Solo. Sebelumnya kami mampir dulu ke Tegal untuk pamitan dengan bude dan pakde.
Perjalanan dari Tegal-Solo cuma 3 jam aja naik tol. Bener-bener lancaaarr. Tol nya juga bagus banget. 

Tol Menuju Solo

Selama di Solo, kami menginap di Multazam Hotel yang berada di kawasan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Hotelnya konsep islami, bukan hotel yang berbintang gitu tapi menginap di sana sangat nyaman, hotelnya bersih, cukup modern dan breakfastnya juga lumayan enak. Yang pasti, kenapa kami pilih hotel ini karena strategis dekat dengan RS yang akan kami tuju di Solo.

Lobby Hotel Syariah Multazam Solo

Selama Ibu bolak-balik periksa ke RS di Solo, hanya ditemani oleh Mas Ghi. Aku dan Anbiya cuma ikut sekali aja pas registrasi awal trus pulang, nunggu di hotel. Karna di RS tersebut dihimbau untuk tidak membawa anak < 12 tahun.

Selama di Solo, kami juga sempat kulineran ke susu segar Shi Jack yang terkenal itu. Favoritku susu coklat, sedangkan Anbiya suka banget susu plain-nya. Untuk makan siang dan makan malam juga gampang carinya, karena banyak resto juga di Solo, seperti Ayam Goreng Suharti, Gudeg Yu Djum, dan kami tanpa sengaja menemukan rumah makan Ayam Goreng Kampung Kleco (dekat makam haji) yang rasanya enaaakk sekali. Sederhana aja sebenarnya sih tempatnya, tapi enaaak, kalau jam makan siang cukup ramai, dan harganya juga sangaaaattt terjangkau untuk ukuran ayam kampung.

                            Susu Coklat Shi Jack

Karena di Solo ini tujuan utamanya untuk menemani Ibu berobat, jadi kami gak ada ke tempat tujuan wisata gitu, karena ya gak terpikir juga sih hehee. Paling pas mau pulang itu, kami sempat mampir ke pasar klewer untuk beli daster batik, tapi ternyata masih tutup.
Sekarang pasar klewer udah beda gak seperti dulu yang masih berbentuk pasar banget. Udah bentuk bangunan gedung bertingkat gitu dengan parkir basement. Jam buka juga mulai pukul 10.00. Jadi waktu kami ke sana jam 08.00 itu belum ada satu toko pun yang buka. Alhasil kami gak jadi belanja di sana deh... Cuma mampir ke toko batik yang ada di pinggir jalan di daerah Laweyan.

Alhamdulillah akhirnya urusan di Solo udah selesai, kami bisa segera kembali ke rumah. Pesan dokter untuk Ibu terus melanjutkan fisioterapi seminggu sekali, selama tiga bulan ke depan dan memakai korset khusus untuk support tulang belakang.
Semoga Allah selalu melindungi kami sekeluarga dan memberikan kesehatan. Aamiin..

Wednesday, September 11, 2019

Anbiya 16 - 18 Bulan

Besok Anbiya usianya sudah 19 bulan. Waahh gak terasa ya udah makin besar si anak ganteng😊
Dan biar ceritanya runut, aku mau nulis lagi nih mengenai perkembangan Anbiya di usia 16-18 bulan. Ceritanya dirapel karena memang kalau baca di buku panduan usia segitu kurang lebih sama milestone-nya. 

Dari perkembangan fisik, di usia 16-18 bulan berat badan Anbiya di kisaran 11 kg. Dan terakhir ngukur tinggi badan 85 cm. He’s very tall! πŸ‘ΆπŸ»
Lingkar kepala juga normal alhamdulillah. Kalau dilihat di growth chart semua ideal ya, tapi pas konsul ke DSA kalau bisa berat badannya dinaikin jadi 12 kg biar lebih berisi, karena Anbiya ini tinggi.
DSA juga menyarankan untuk selalu menyiapkan makanan atau cemilan yang kalori tinggi, karena Anbiya lagi masa aktif-aktifnya.
Di usia 18 bulan juga Anbiya dapat booster imunisasi DPT. Anbiya ambil DPT infanrix hexa.

MasyaAllah Tabarakallah


Nah, menurut buku panduan Eka Hospital, milestones bayi 16-18 bulan :
  • Minum dari cangkir
Alhamdulillah Anbiya udah lancar minum sendiri dari cangkir, kayaknya sejak usia 13 bulan gitu. Sekarang udah gak suka pencet dispenser untuk main-main. Tapi udah ngerti kalau pencet dispenser air keluar itu untuk minum, bukan buat mainan. Jadi kalau haus, Anbiya suka ambil sendiri gelasnya dan ambil sendiri dari dispenser kemudian diminum. 
  • Berbicara 3 kata
Udah bisa ngomong mama, papa, gendong, itu, ndak, makan, cicak, hmm apa lagi ya.. Tapi memang untuk berbicara masih kurang aktif di usianya yang ke-18. Masih banyak bicara bayi nya. 

Sempet takut kalau Anbiya speech delay, tapi perkembangan bahasa bayi itu ternyata gak sekedar pelafalan aja, namun juga mengerti kosa kata atau yang orang lain ucapkan, mengerti perintah tanpa ditunjuk. Itu juga salah satu proses bayi dalam belajar berbicara.
Anbiya udah ngerti dan paham semua nama-nama benda yang sehari-hari ditemuin. Kalau ngomong apa juga dia udah ngerti. Jadi tinggal ditunggu aja kapan “tanggul jebol” alias keluar tu kosakatanya. Dan Anbiya waktu baru lahir juga sudah test pendengaran di RS hasilnya bagus, jadi inshaAllah bakal bisa ngomong. Just wait.

Tugas mama papa, terus stimulasi kemampuan bicara Anbiya dengan sering ngajak ngobrol, bernyanyi, baca buku. Mudah-mudahan sebelum 24 bulan sudah lancar bicara. Aamiin..
  • Menumpuk Dua Kubus
Alhamdulillah ini juga sudah bisa. Mama beliin Anbiya Mega Bloks waktu ada pameran mom and baby fair di Jakarta. Awal -awal ajak main balok/ blok/ kubus ini harus dicontohin dulu sama orangtuanya, pas udah ngeh baru deh bisa ngikutin. Anbiya paling seneng bikin menara nyusun terus ke atas sampai tinggi banget! Hehee.
  • Berlari
Usia 18 bulan sudah lancar berlari alhamdulillah. Sekarang lagi aktif-aktifnya nih... 😊


***

Oke cukup sekian cerita milestones Anbiya di usia 16-18 bulan.
Semoga Anbiya selalu sehat, dalam penjagaan Allah, dan normal tumbuh kembangnya sesuai usianya. Doa mama papa yang terbaik tak pernah terputus untuk Anbiya. Mama papa gak akan pernah meragukan Anbiya, setiap anak itu spesial dan punya waktunya masing-masing. Tetap semangat, mama papa bantu stimulasi yang terbaik❤️