SOCIAL MEDIA

Saturday, June 3, 2017

TTC Journey #1 : Kunjungan Pertama ke dr. Nuswil Bernolian Sp. OG, KFM

Kali ini mau cerita tentang ikhtiar aku dan suami untuk memiliki keturunan dari segi usaha medis alias cek ke dokter kandungan. Ini cerita ku pertama kali di blog post mengenai TTC (Trying to Conceive). TTC itu kurang lebih sama dengan promil (program hamil) yang lebih dikenal orang-orang. Namun aku pribadi lebih suka menyebutnya dengan TTC, karena menurut ku makna TTC itu lebih dalam dan luas.

Long story short, kami sudah menikah selama 1,5 tahun. Bulan Maret tahun lalu aku sempat mengalami keguguran pada kehamilan pertama, kata dokter yang menanganiku waktu itu penyebabnya adalah abnormalitas kromosom / blighted ovum. Semenjak kejadian itu, aku belum 'isi' lagi, memang kami LDM-an, karena sebelumnya aku masih bekerja di Jakarta. Akhirnya Desember tahun lalu, aku bisa nyusul suami ikut pindah ke Palembang, dan karena sekarang kita udah gak LDM-an lagi, jadi kita udah mulai merencanakan untuk memiliki keturunan.

Setelah searching review dokter kandungan yang bagus dari berbagai forum, akhirnya aku dan suami sepakat untuk datang berkonsultasi dengan dr. Nuswil Bernolian, Sp. OG, KFM di RS Hermina Palembang. Kunjungan pertama kami pada tanggal 29 April 2017.

Karena dapat antrian belakang-belakang (no urut 56), jadi aku dan suami datang ke RS sekitar pukul 17.00 dan baru masuk ke ruangan dr. Nuswil sekitar pukul 20.00. Antriannya memang luar biasaaa.

Saat masuk ke ruang periksa, dr. Nuswil langsung berdiri dan menjabat tangan aku dan suami, kemudian mempersilakan kami duduk. Saat konsul aku gak lupa bawa buku informasi pasien ibu hamil (dari kehamilan sebelumnya) agar dr. Nuswil bisa tau history aku.

Buku informasi pasien yang berisi rekam medik aku dan hasil-hasil lab dari kehamilan pertama

dr. Nuswil : Sudah berapa lama menikah?
Mas Ghifar : 1.5 tahun dok
dr. N : selama itu aktif berhubungan gak?
Raras : hmm, gak sih dok, karena kami jauh-jauhan, ketemunya 1-2 bulan sekali. 5 bulan terakhir ini baru kita tinggal bareng.
dr. N : (ngangguk-ngangguk) jadi sudah pernah hamil ya.. *sambil baca buku rekam medik aku*
R : iya dok, tapi keguguran. Kata dokter yang nanganin karena BO.
dr. N : sudah beta-hcg ya?
R : sudah dok, 261 mIU/ ml.
dr. N : ya, biasanya karena itu. Coba saya baca dulu keterangan dari dokter sebelumnya ya. *Sambil buka-buka buku rekam medik, dan semua hasil lab*
. . .
dr. N : oh sudah test TORCH, bagus hasil negatif semua, tapi kenapa hanya IgM  yang di cek? Ini test nya sebelum atau sesudah keguguran?
R : Sebelum dok, saya dapat surat pengantarnya IgM doang dok waktu itu.
dr. N : oke, menstruasinya normal gak? Berapa lama siklusnya?
R : siklusnya sering mundur dok, tapi pasti sebulan sekali sih mens, rata-rata 34 hari.
dr. N : kapan terakhir mens ?
R : sekarang lagi mens dok, hari ke 4.
dr. N : ok, bisa langsung mulai promil ya. Sakit gak kalau mens ?
R : mm sakit dok tapi cuma hari pertama aja .
dr. N : sakitnya biasa atau sakit banget ?
R : sedeng dok, gak sakit sakit banget, tapi ya, sakit.
dr. N : perlu minum obat baru hilang sakitnya ?
R : ohh gak dok, gak pernah minum obat hilang sendiri .
dr. N : berarti normal ya sakitnya.

Aku dianamnesa dulu sama dr. Nuswil sebelum periksa, oh ya sebagai info, kalau kita mau memulai program hamil atau sekedar pemeriksaan rutin ke obsgyn, lebih baik datang pada hari ke-2 mens. Aku datang hari ke-4 karena baru  sempetnya datang pas hari itu, maklum harus nyesuaiin jadwal suami juga kan. Karena saat sedang mens, siklus kita sedang dimulai, bisa evaluasi sel telur, perkiraan ovulasi, dan semisal ada treatment dengan obat-obatan biasanya akan dimulai sejak saat mens. Biasanya kalau datang periksa pas lagi gak mens, ya disuruh datang kontrol lagi pas mens bulan depan. Sayang kan, jadi biar langsung sekalian, gak bolak balik obsgyn, lebih baik atur waktu.

dr. Nuswil ini ternyata senang ngobrol dan memberi kesan 'dekat' antara dokter dan pasien. Gak ada menakut-nakutkan atau menjudge kami. Mungkin memang begitu yang harus dilakukan dokter kepada pasiennya yang sedang TTC agar selalu positive thinking. Sampai akhirnya aku disuruh berbaring untuk di USG.

dr. N : ok bagus ini rahimnya menghadap ke depan, bentuk dan ukuran normal.. tidak ada kista, miom.
R : alhamdulillaaah .
dr. N : ini dinding rahim, ditengahnya terlihat garis putih (maksudnya endometrium) *sambil menunjuk* dan nanti kalau hamil, kantungnya ada di sini, jadi kalau hamil garis ini gak akan kelihatan.

Hasil USG ku. Tampak uterus dan ovarium kanan dengan folikel" yang sedang berkembang
USG normal uterus. Sumber: Google

USG normal uterus. Sumber: Google

Alhamdulillah, kondisi rahim ku dinyatakan baik oleh dokter. Aku juga mencari-cari gambar lainnya dari buku dan internet untuk perbandingan. Banyak hal baru yang aku ketahui saat konsul ini juga, misalnya ternyata ada kasus rahim terbalik (retrofleksi). Jika kondisi seperti ini, obsgyn akan menganjurkan bagaimana posisi terbaik saat berhubungan, dll.

Abis di USG dipersilakan duduk lagi, dikira bakal usg trans-v tapi ternyata usg abdomen aja. Di meja konsultasi, dr. Nuswil kembali menerangkan proses terjadinya kehamilan. What I love the most dari sesi konsul ini adalah beliau menjelaskan dengan gambar-gambar sehingga kami mudah menangkap dan mengimajinasikannya. Udah kayak lagi kuliah reproduksi hhee.

Berikut beberapa poin penting hasil konsul yang aku catat agar tidak lupa :

1. Untuk pasangan suami istri yang sudah lebih dari satu tahun berhubungan secara rutin tapi belum pernah hamil/ memiliki keturunan, ada pemeriksaan lanjutan yang harus dilakukan, yaitu:
Istri : HSG (histerosalphingo-graph)
Suami : analisa sperma

HSG adalah teknik memasukan cairan kontras melalui *V* kemudian dirontgen untuk mengetahui ada sumbatan di tuba falopi atau gak. Kalau ada sumbatan, harus dilakukan tindakan karena akan menghalangi gerak sperma menuju sel telur. Nah untuk HSG ini, dr. Nuswil bilang aku tidak perlu melakukan HSG karena sudah pernah hamil jadi pasti salurannya tidak ada sumbatan. Syukurlah dalam hati legaa banget, karena aku udah siap-siap mental kalau sampai disuruh HSG. Tapi ternyata gak. Alhamdulillaah.

Untuk mas ghifar, dibuatin surat pengantar untuk analisa sperma. Ceknya bisa di laboratorium klinik mana aja, syaratnya harus puasa berhubungan/ sperma tidak dikeluarkan selama 3-7 hari. Kalau terlalu cepat atau terlalu lama khawatir akan memengaruhi kualitas sperma dan bikin hasilnya jadi bias.

2. Menurut penjelasan dr. Nuswil, untuk terjadi kehamilan, yang penting itu adanya sel telur yang sehat dan matang. Karena sel telur yang matang, pecah dan dilepaskan pada setiap siklusnya itu normalnya cuma satu, sedangkan kalau sperma jumlahnya berjuta-juta. Laki-laki kalau kualitas spermanya kurang, asal ada sel telur yang matang saja bisa terjadi kehamilan. Makanya kenapa ada kakek-kakek masih bisa hamilin istrinya, kan?
Jika ada suatu masalah, biasanya dokter akan menuntaskan masalah itu terlebih dahulu, namun pada kasus ku di skip (karena baik-baik aja), so, fokusnya adalah mengoptimalkan pematangan sel telur ku. 

3. dr. Nuswil meresepkan aku obat penyubur Profertil dan suplemen Nulacta Plus. Profertil (clomiphene citrate) ini kalau ku baca-baca fungsinya untuk membantu mematangkan sel telur agar siap dibuahi. Hari ke-13 dari mens pertama (8 Mei 2017) aku diminta balik kontrol lagi, untuk evaluasi apakah sel telur ku sudah ada yang besar (folikel dominan). Kalau ternyata sel telur ku kecil-kecil, dosis obat ini akan ditambah. Oh ya Profertil ini obat keras, dan harus di bawah pengawasan dokter.

Sedangkan Nulacta Plus, ini suplemen yang biasa dikonsumsi bumil maupun busui, ternyata bagus juga dikonsumsi untuk yang sedang TTC. Isinya ada fish oil, DHA dan EPA yang ku baca-baca ternyata bagus untuk pematangan sel telur. Selain itu ada kandungan vitamin E dan asam folatnya juga.

Mas ghifar gak diresepin obat apa-apa, karena memang belum ada hasil pemeriksaan. dr. Nuswil nyaranin banyak konsumsi makanan yang tinggi vitamin C dan Zinc, karena dua komponen ini sangat bagus untuk kualitas sperma. Makan seafood, seperti ikan-ikanan, udang, dll juga sangat bagus.

***

Begitulah kunjungan pertama aku dan suami ke obsgyn, cukup puas karena kami menemukan dokter yang informatif. Sepanjang perjalanan pulang, kami bersyukur karena hasil pemeriksaan baik, semoga pemeriksaan selanjutnya selalu baik. Kami juga terus berdoa mengharap keridhoan Allah. Tentu semua yang kami lakukan ini semata-mata hanyalah bentuk ikhtiar, pada akhirnya semua kembali lagi atas izin-Nya.



"Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa." (QS Al-Imran:28)

Aamiin aamiin ya rabbal alamin..



Cerita selanjutnya : TTC #2 USG Folikel & Analisa Sperma

Baca Juga : Alhamdulillah Positif Hamil :)

8 comments :

  1. Brp kak biaya konsul/periksa ke dokter Nuswil?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo kak.. Tahun 2017 konsultasi dan USG dengan dr. Nuswil sekitar 500rb 🙂

      Delete
  2. Kak saya dri lampung mau berobat ke dr.nuswil ,klo ada kontaknya boleh kak aku minta

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo kak, mohon maaf sekali tidak dapat memberikan no pribadi dr. Nuswil. Bisa langsung hub RS Hermina Palembang via telp sj kak utk atur appointment 🙏 terima kasih

      Delete
  3. Kak, 500 itu biaya jasa dokter sama obat ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo kak, hanya jasa konsultasi dan USG nya saja. Belum termasuk obat.
      Kalau obat, beda-beda harganya kak, tergantung yang diresepkan saat itu apa.

      Untuk memastikan update biaya terbaru, mungkin bisa coba hubungi CS RS Hermina Palembang kak.
      terima kasih

      Delete
  4. dlu dr.nuswil prktek di klnik azka radial(tp skrg tutup),skrg selain dihermina beliau praktek dmn?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo kak mohon maaf saya hanya tahu praktek yang di RS Hermina Palembang saja kak 😊🙏

      Delete