SOCIAL MEDIA

Tuesday, July 23, 2019

Lip Tie Pada Bayi Tanpa Incisi

"Bu, ini bayi nya ada lip tie"

Begitu kata dokter spesialis anak ketika kontrol Anbiya umur 1 minggu.

Pas dokter bilang gitu, kaget dan bingung jadi satu. Lip tie?! Apa ituuu??
Pas hamil, cuma familiar sama tongue tie doang. Karena emang tongue tie yang sering dibahas di buku-buku laktasi bahkan di forum emak-emak. Ternyata ada sodara nya tongue tie guys. Yaitu LIP TIE.



“Bahaya gak dok?”

“Tidak berbahaya bu. Lip tie tidak berpengaruh terhadap tumbuh kembang, tidak membuat sulit menyusu juga. HANYA berpengaruh terhadap...... ESTETIKA”.

((( E S T E T I K A )))



“Nanti kalau tumbuh gigi, giginya bisa renggang”.
(Gigi seri depan atas)

....

“Lip tie ini bisa di incisi kok bu. Tapi dokter anak di sini belum ada yang bisa melakukan. Ibu bisa ke KMC bertemu dengan dr. Asti Praborini, Sp. A, IBCLC

....

“dr. Asti Praborini biasa melakukan incisi pada kasus lip tie dan tongue tie. Ibu bisa konsultasi aja dulu dengan beliau”.

Sambil aku dikasih kartu nama dr. Asti Praborini. Aah ya. Nama yang sudah tak asing. Beliau adalah dokter anak sekaligus konselor laktasi board-certified yang terkenal, bahkan punya Praborini Lactation Team juga.

“Proses incisi nya bagaimana dok?”

“Tidak perlu dibius. Disayat saja sudah selesai, bisa disusuin langsung abis itu. Cepet sembuh lukanya karena masih bayi”

YHA. Walaupun kedengerannya tekniknya sederhana, namun incisi lip tie maupun tongue tie harus dilakukan oleh dokter anak yang berpengalaman.




****

Keluar dari ruang dokter, ternyata aku berbeda pendapat dengan mamah (neneknya Anbiya) dan suami.

“Gak usah diincisi!” Begitu kata mamah. Suami pun setuju dengan alasan GAK TEGA. Kasihan masih bayi 😌

Aku pun saat itu juga gak tega, tapi aku lebih gak tega kalau Anbiya sampe gigi nya renggang padahal aku tau ini bisa dicegah sedari dia bayi dengan cara di incisi.

Aku takut Anbiya gak percaya diri karena giginya. Dulu aku pernah di bully fisik dan itu rasanya sedih banget, gak mau kalau sampai Anbiya ngalamin juga.

“Gpp gigi renggang, anak laki kok yang penting itu sholeh, pintar, sopan, baik hatinya, trus nanti mapan, punya pekerjaan bagus. Banyak deh cewek-cewek yang suka, walau gigi renggang juga”.

Hahhahaa. Gitu kata mamah coba menghibur aku. Mamah kayak tau banget deh apa yang aku khawatirin. But, make sense juga sih😆

“Kalau nanti beneran renggang, kan bisa perawatan gigi sama dokter gigi Sp. Ortho. Biar jadi rapet rapih giginya.” Dan kali ini suami coba menghibur aku juga.

Aku tanya-tanya ke temen ku yang dokter gigi dan saat ini sedang ambil spesialis di FKG UGM, katanya memang bisa kok nanti perawatan ortho. Alhamdulillah jadi lebih tenang.

Kalau dilihat dari segi biaya, mungkin sekali incisi tidak memakan biaya banyak dibanding ketika nantinya harus perawatan ortho seperti behel dsb. Tapi suami bilang gpp, inshaAllah ada rejekinya.

Di saat lagi gamang, aku cuma cerita sama satu sahabat ku, Dian. Aku emang gak mau cerita dulu di blog maupun kepada orang lain sampai aku lihat sendiri bagaimana gigi susu Anbiya tumbuh.
Aku juga baca artikel dan lihat video yang dibuat oleh dr. Tiwi tentang lip tie dan tongue tie yang membuat aku jadi lebih tenang (bisa cari sendiri di google ya).

Dan akhirnya kami memutuskan untuk TIDAK INCISI lip tie Anbiya. Sebelumnya kami memastikan lagi ke dokter bahwa betul, lip tie tidak berdampak negatif pada kesehatan dan tidak akan mengganggu proses tumbuh kembang seperti menyusui, makan, berbicara, dsb.
(Berbeda dengan tongue tie yang bisa (tapi tidak selalu) memengaruhi proses menyusui).

Ternyata memang benar, proses menyusui sama sekali tidak terhambat karena lip tie. Saat masih ASI eksklusif berat badan Anbiya setiap bulannya naik rata-rata > 1 kg. Begitupun dengan tumbuh kembang yang lain normal sesuai usianya.

Baca Juga : Breastfeeding Journey Part 1


Lalu, bagaimana gigi susu Anbiya tumbuh? 

Anbiya tumbuh gigi pertama kali saat usia 10 bulan. Dua gigi bawah, kemudian menyusul dua gigi atas.
Pada saat awal tumbuh memang kelihatan sekali ya renggangnya.
Namun makin lama ketika gigi nya sudah full keluar semua dan tumbuh gigi lain disebelahnya, posisinya yang semula renggang lambat laun jadi merapat.
Alhamdulillaaah..
Semoga saja ketika nanti berganti gigi dewasa juga tetap rapat gigi nya.



Tapi sekarang kalau aku lihat orang dengan gigi seri depan renggang itu unik lho. Dan benar apa kata mamah ku, apalagi kalau kepribadian orang itu bagus, gigi doang mah gak ada apa-apanya. Tetep enak dipandang karena orang baik auranya bagus.
Ya semoga Anbiya kelak punya kepribadian dan hati yang bagus Ya Allah. Aamiin


Kelihatan jelas ya lip tie nya ?

Ok sekian cerita ku tentang lip tie pada bayi tanpa incisi. Mungkin ada juga mommies di luar sana yang galau karena bayinya punya lip tie. Aku tulis ini di blog untuk berbagi pengalaman. Tenang momss! InshaAllah akan baik-baik saja😊💕
Kalaupun dokter bilang harus di incisi karena sudah sangat tebal dan menggangu kenyamanan bayi, semoga itu yang terbaik. ❤️


My dearest son, tetap ganteng walau ada lip tie ^^ InshaAllah punya hati yang baik juga

Masya Allah, Tabarakallah.

Friday, July 19, 2019

Anbiya Belajar Sikat Gigi

Halo, kali ini mama mau cerita tentang Anbiya yang lagi belajar sikat gigi nih.


Cerita dikit dari awal yaa, waktu Anbiya umur 6 bulan, mama udah rutin bersihin gusi dan lidah Anbiya pakai sikat silikon yang dimasukin ke jari. Trus umur 12 bulan, mama mulai ganti pakai Nuby Teether and Toothbrush yang bentuknya kayak pisang. Kenapa mama pakai ini? Karena giginya Anbiya udah ada empat, kalau masih pakai sikat silikon itu sakit yaa kalau kegigit! Hehe. Trus mama rasa memang sudah saatnya ganti aja, karena kan sudah ada giginya, walaupun masih kecil-kecil, biar lebih bersih aja.


Umur 6 bulan pakai sikat silikon

Selama umur 12-14 bulanan, Anbiya dibersihinnya pakai Nuby Teether & Toothbrush itu, belum mama pakein pasta gigi. Jadi setelah mama sterilin, trus pakai air hangat aja bersihinnya.


Umur 12 bulan pakai Nuby Teether toothbrush

Sampai akhirnya pas Anbiya umur 15 bulan, mama ganti pakai sikat gigi beneran plus dikasih pasta gigi.
Saat itu gigi Anbiya sudah ada delapan, dan udah makan macem-macem termasuk yang manis-manis. Jadi deh, mama semakin mantap untuk mulai pakein pasta gigi.


First 'real' dental kit. Jack n Jill & Nuby toothbrush


Dalam memilih pasta gigi, mama juga bertanya terlebih dulu ke dokter gigi dan cari reviewnya. Karena Anbiya belum bisa kumur-kumur, jadi lebih baik cari pasta gigi yang flouride-free dan gak mengandung bahan kimia berbahaya, jadi aman kalau tertelan. Kandidat pasta gigi yang mau mama beli waktu itu : Buds, Chicco, Jack n Jill.
Ketiga pasta gigi itu organik, flouride-free, SLS-free, paraben-free, no sugar, no artificial colour, dan aman jika tertelan.


Jack n Jill suitable from 6 months. Safe if swallowed

Akhirnya yang mama beli merk Jack n Jill karena harganya yang paling pas di kantong hehe.
Untuk 1 tube ukuran 50 ml seharga Rp 65.000,-
Ini habisnya bakal lamaa, karena tiap sikat gigi cuma pakai sedikiiit banget seukuran beras.

Sikat gigi mama beli merk Nuby, ini juga seadanya di baby shop yang ada saat itu. Menurut mama, sikat gigi Nuby ini bahan sikatnya halus namun mudah brudul. Kalau udah brudul khawatir sakit kalau kena gusi atau sela gigi. Untuk pegangannya sih enak dan kepala sikatnya juga kecil jadi pas di mulut bayi.

Trus mama cari di supermarket, ternyata ada jual sikat gigi Oral-B. Mama beli deh untuk pengganti Nuby. Sikat gigi Oral-B ini ada stage-nya, 1-2-3. Mama beli stage 1 untuk bayi 4-24 bulan. Menurut mama lumayan lah ni sikat gigi. Lebih mudah ditemukan, ada banyak di supermarket. kalau Nuby kan harus di baby shop.


Sikat gigi Oral-B stage 1 (4-24 bulan)

Trus, mama dapat rekomendasi ni dari temen mama yang gigi anaknya baguss terawat (Momasti), sikat gigi yang bagus merk Dr. Brown’s. Pegangannya lentur dan sikatnya lembut. Boleh deh, mama mau coba beli ini juga.

Menurut mama, pemilihan sikat gigi juga penting, karena kalau sikatnya enak, gak sakit, nyaman, anak juga jadi gak trauma dan happy saat sikat gigi.

Anbiya sikat gigi 2x sehari, pagi-siang setelah nyemil dan malam sebelum tidur. Jujur aja, sikat gigi siang tu kadang suka ke-skip, karena abis mandi biasanya Anbiya ngantuk langsung pengin nemplok nenen dan bobok. Biasanya mama gak akan paksa kalau sikon nya lagi begini, karena kalau lagi ngantuk biasanya cranky kan. Mama gak akan paksa sikat gigi di saat lagi cranky. Percuma. Anaknya pasti nolak, mama pun bisa stres. Gak efisien. Jadi lebih baik pending dulu, di lap-lap pakai kassa + air hangat aja as lagi tidur atau sikat sore juga gak masalah abis mandi.
Kalau malam, hampir gak pernah ke-skip, karena udah ada Papa nya Anbiya juga kan. Ada yang bantu ingetin dan nyikatin.

Nah, mama mau sharing gimana cara mama ngajarin Anbiya sikat gigi 😊👇🏻 :
  • Children see, children do. Yes, mama setuju banget sama kalimat itu. Untuk segala hal, termasuk sikat gigi, Anbiya udah biasa lihat mama papa sikat gigi. Jadi begitu Anbiya dibelikan sikat gigi kecil untuknya, langsung happy dan mengarahkannya ke mulut untuk menirukan gerakan sikat gigi. Jadi ada baiknya memang, sebelum kenalkan sikat gigi ke anak, dilihatin/ contohin dulu supaya lebih familiar.
  • Sebelum mulai sikat gigi, mama sterilkan sikat gigi dulu dengan air hangat. Celup-celupin aja sebentar. (Btw mama simpan sikat gigi di kamar tidur dan simpan dalam wadah bersih). 
  • Siapkan gelas khusus untuk sikat gigi. Gelas ini untuk diisi air matang.
  • Sebelum mulai sikat gigi, biasanya mama meminta Anbiya untuk minum air putih dulu.
  • Cara sikat gigi, biasanya Anbiya sambil duduk/ berdiri. Suka suka dia sih😆 trus mama bilang “A...a..aaaa”, “I...iiiiiii” supaya mangap. Kalau sambil duduk/ berdiri gigi bawah lebih gampang untuk disikat. Tapi susah untuk gigi atas. Khusus untuk gigi atas, mama nyikatin dengan cara Anbiya sambil tiduran di paha mama. Jadi lebih gampang sikat gigi bagian atasnya.
  • Kondisi harus happy! Biasanya sambil mama ajak nyanyi, cerita-cerita. Papa juga bantu hibur biar ketawa-tawa, senyum, buka mulut trus mama sikatin deh! Hehee
  • Berikan kesempatan untuk Anbiya sikat sendiri giginya. Anbiya seneng banget kalau udah gini dia bisa explore dan mengenali kegiatan yang sedang dilakukan. Trik mama, mama siapin dua sikat gigi. Satu untuk dipegang-pegang Anbiya, satunya dipegang mama untuk ancang-ancang nyikatin giginya. Lebih efisien dan gak drama. Hal ini juga mama terapin saat sesi makan. Mama selalu siapin dua sendok. Satu untuk dipegang Anbiya dia belajar nyuap sendiri, satu untuk mama nyuapin. Jadi Anbiya less stress juga menurut mama. 
  • Selesai sikat gigi, karena Anbiya belum bisa kumur-kumur, jadi mama lap-lap gigi dan gusi  Anbiya dengan tooth and gum wipes atau pakai kassa/ waslap yang sudah dibasahkan. Atau juga sikat giginya tadi dicelup-celup basahin ke air di dalam gelas khusus tadi, kemudian sikat ulang untuk bilas.
  • Supaya lebih fun, mama selalu ngajak Anbiya untuk nyanyi waktu sikat gigi. Mama ciptain sendiri nih lirik lagu dan nadanya hehee


“ Sikat gigi, gigi ku sehat
Sikat gigi, gigi ku kuat
Sikat gigi, bebas dari kuman
Senyum ku ceriaaa"
plok.. plok.. plok... hahahah nyanyikan berulang-ulang >.<


Tiap mama nyanyi itu, Anbiya udah hapal wah bakal sikat gigi nih dan ikutan tepuk tangan. Hehee.

PR mama papa, masih terus ngajarin Anbiya kumur-kumur dengan cara beri contoh dan Anbiya kumur-kumur pakai air matang. Saat ini sih belum bisa, masih ditelen terus airnya. Hehe 😆
Trus PR lain untuk konsisten nyikatin gigi Anbiya, supaya jadi kebiasaan dan gak menyesal nantinya, walau gigi susu, tapi tetap harus dijaga kebersihannya. Btw, mama sampai sekarang masih punya gigi susu lhooo. Masih kuat dan baguss, kata dokter gak perlu dicabut. Hehe.

Ketika Anbiya sudah mahir kumur-kumur, mama akan switch pasta giginya jadi yang ber-flouride (untuk mencegah caries/ gigi berlubang). Itupun dipakainya sedikiiit sekali. Namun untuk saat ini masih pakai Jack n Jill dulu karena terbuat dari bahan-bahan alami dan flouride-free.





Okaayy, cukup sekian sharing mama tentang Anbiya belajar sikat gigi.. Semoga bermanfaat :)

Monday, July 15, 2019

Kejang Demam dan Roseola Infantum

Anbiya pernah mengalami kejang demam karena infeksi virus Roseola Infantum ketika umur 10 bulan. Kejadian ini udah cukup lama, sekitar tujuh bulan yang lalu, tapi aku baru cerita di blog sekarang, karena kemarin-kemarin rasanya masih trauma banget!

Di blog post ini, aku mau sharing pengalaman apa yang harus dilakukan ketika anak kejang demam dan bagaimana penanganan jika kejang demam terulang, serta sedikit tentang virus Roseola Infantum.

Anbiya 10 bulan kejang demam


***

Waktu itu hari Jumat pagi di bulan Desember, Anbiya bangun tidur badannya terasa panas. Langsung aku cek dengan termometer, ternyata benar demam 38.8’C.
Aku kasih paracetamol, pakaikan baju yang tipis, skin-to-skin contact, dan susuin lebih sering, tapi sampai malam harinya tetap demam, bahkan mencapai 39’C.
Akhirnya ku putuskan besok langsung ke dokter karena demam tinggi nya secara mendadak dan gak turun-turun.

Hari Sabtu pagi nya, lagi siap-siap mau ke RS. Anbiya udah rapih, lagi digendong dulu sama mpok (ART) pakai kain jarik.
Trus tau-tau mpok teriak histeris karena terjadi sesuatu sama Anbiya.

Kejang demam!

Badannya semua meregang, kejut-kejut, matanya ke atas, bibir biru.

Ya Allah, lemessss.. Rasanya jantung ku kayak berhenti saat itu.

Pertolongan pertama yang ku lakukan: lepaskan Anbiya dari gendongan, melonggarkan pakaian, menenangkan tapi tidak menahan gerakan kejang.
(Thanks my sisteerrr teh icha yang pernah sharing penanganan anak kejang, jadi gak clueless amat saat itu).

Ini jadi pelajaran banget buat aku: kalau lagi demam tinggi, anak pakai baju, jangan digendong terkungkup dengan kain gituu. Tambah sumuk. Tambah panas.

Kecuali gendong skin-to-skin contact ya.

Kejang demam nya ini sebentar gak sampai 1 menit, setelah itu langsung segera bergegas ke RS.

***

Sampai di IGD, dokter jaga cek suhu nya 39.5’C. Berarti saat terjadi kejang ya lebih tinggi lagi dari itu suhunya, mungkin mencapai 40 atau lebih.

Trus Anbiya dikasih penurun panas yang dimasukin lewat anus dan cek darah untuk screening.

Waktu itu hasil darahnya negatif db, negatif tipes, cuma memang ketahuan ada infeksi tapi belum tau apa. Oh ya, dari hasil lab ini juga ketahuan kalau Hb Anbiya agak rendah.


Mau diambil darah


Trus DSA Anbiya visit ke IGD, aku banyak nanya-nanya tentang kejang demam yang barusan dialami Anbiya.

Menurut DSA, kejang demam ini umum terjadi pada anak 6 bulan - 5 tahun. Bisa kena pada siapapun, tapi kalau pihak keluarga pernah ada riwayat kejang demam, kejadiannya bisa lebih tinggi.

Naahh memang dulu waktu aku bayi juga pernah kejang demam. Sampai 2x malah. Keponakan dan sepupu ku juga pernah kejang demam. Jadi memang ada riwayat kejang demam dalam keluarga (inherited).

Kejang demam termasuk kejang sederhana, tidak berbahaya, tidak menyebabkan kerusakan sel-sel otak, karena kejadiannya pun singkat sekali rata-rata kurang dari satu menit. Beda dengan epilepsi.
Oleh karena itu, pasien kejang demam tidak disuruh pemeriksaan lanjutan seperti EEG atau CT scan.
Memang respon tubuh terhadap tingginya suhu aja.

Ciri-ciri kejang demam :
  • Sesuai namanya, HANYA terjadi saat demam
  • Waktu kejang singkat biasanya beberapa detik/ < 1 menit
  • Tidak berulang dalam waktu 24 jam
  • Langsung kembali normal setelah kejang berhenti
Nah itu ciri-ciri paling gampangnya, kalau bedain dengan epilepsi, biasanya kejang epilepsi bisa terjadi kapan pun (tidak saat demam), waktu kejang yang lama bisa sampai 15 menit-an, dan bisa berulang dalam 24 jam. 

Kemudian, jika kejang demam terjadi pertama kali apa yang harus dilakukan ?
  • Longgarkan atau jika memungkinkan lepas pakaian. Supaya gak sumuk. Jika digendong, lepaskan dari gendongan.
  • Jangan menahan gerakan kejang, jadi lebih baik dibaringkan di kasur, sambil kita menemani/ menenangkan disebelahnya.
  • Jangan memasukan benda apapun ke dalam mulut (sendok, kain, dll) karena khawatir menghalangi jalan nafas.
  • Tidak perlu panik berlebih, kejang demam ini sangat singkat, segera bawa ke IGD. Kondisi setelah kejang demam anak akan kembali normal seperti biasa.

Bagi anak yang pernah kejang demam, dokter akan bawain “bekal” obat anti kejang dan diazepam. Karena bisa kembali terulang sampai umur 5 tahun. Tapi gak selalu yaa. Ada kok yang cuma kejang demam 1x aja seumur hidupnya. Semoga aja sih gak terulang lagi pada Anbiya. Tapi kita mesti antisipasi dan tahu penanganan jika terulang kembali.

Jika demam :
  • Berikan paracetamol oral setiap 4 jam sekali. Jika demam tinggi gak turun-turun, bisa berikan obat penurun panas yang dimasukan lewat anus, dengan jarak 2 jam dari paracetamol oral.
  • Jika demam > 38.5 ‘C , berikan obat anti kejang (racikan dokter).
  • Saat kejang demam terjadi lagi, segera berikan stesolid (diazepam) lewat anus.
  • Dan penanganan demam pada umumnya seperti skin to skin contact, menggunakan pakaian tipis, kompres, dan yang penting perbanyak cairan masuk. Karena, musuh utama demam sebenarnya adalah dehidrasi. Bukan kejang demam.

Nah singkat cerita, setelah 3 hari demam tinggi gak turun-turun, akhirnya hari ke-4 suhu tubuh mulai turun dan stabil.
Di saat suhu turun, tiba-tiba muncul gejala:
  • ruam merah pada wajah dan punggung

Saat DSA visit dan periksa kondisi Anbiya, beliau bilang kalau ruam-ruam ini disebabkan oleh virus. Virus Roseola Infantum. Jadi akhirnya ketahuan laah penyebab demam tinggi 3 hari sampai kejang demam karena apaaa.

DSA juga bilang, kalau ruam merah ini akan hilang dengan sendirinya dalam waktu 48 jam. Alhamdulillah Anbiya 24 jam udah ilang semua ruam nya. Mungkin karena ruam yang muncul ini juga termasuk sedikit ya, jadi lebih cepat hilangnya.

Roseola ini banyak yang keliru sama campak. Padahal berbeda bangeett. Gampangnya sih bedain ruam roseola muncul setelah demam turun, sedangkan ruam campak muncul saat sedang demam tinggi. Dan campak biasanya disertai dengan komplikasi, makanya campak ada vaksinasinya kan. Roseola gak ada.

Nah di bawah ini tabel ilustrasi perbedaan campak, rubella, dan roseola. Gejalanya sama-sama ada ruam, tapi penyakitnya berbeda.


Yes, Roseola panas tingginya mendadak banget!!! (pic source: ibupedia)

Kalau udah keluar ruam roseolanya ini malah udah bisa tenang, udah mau sembuh istilahnya dan gak akan naik lagi panasnya. Makanya esok harinya juga Anbiya udah dibolehin pulang.

Ruam setelah demam tinggi 3 hari (Roseola) ini sebenernya seriiinggg banget terjadi sama bayi dan anak-anak. Bahkan ada yang kejadian tanpa sadar. Sebetulnya gak perlu khawatir, home treatment aja udah cukup. Tapi karena Anbiya ada kejang demam makanya perlu observasi.






Sebelum ketahuan karena Roseola, Anbiya juga melakukan screening ISK (infeksi saluran kemih). Karena ISK ini juga banyak kasusnya pada bayi laki-laki dan bisa menyebabkan demam tinggi juga. Tapi alhamdulillah hasil cek urin semua bagus. Jadi bukan karena ISK.
Oh ya, untuk anak bayi, cara ambil sampel urin nya gampang ternyata, karena ada alatnya ditempelin gitu bahan plastik seperti pakai koteka. Nanti pas pipis ketampung di situ deh, gak perlu nungguin dan nampung manual.



Ini pas demam udah turun, udah lepas infus, boboknya udah puleesss banget


Ada playground khusus anak rawat inap, jadi gak bosan di kamar (ACC dokter dulu)


***

Okaay, sekian sharing ceritanya yang aku buat sesingkat mungkin, semoga bisa bermanfaat 😊🙏🏻

Yang Anbiya alami ini, kejang demam karena infeksi virus Roseola Infantum. 
Pada dasarnya, setiap infeksi apapun baik itu karena virus atau bakteri, yang bikin sampai demam tinggi, berpotensi bikin kejang demam. 

TETAPIIII, kalaupun demam tinggi, bukan berarti akan berujung kejang demam kok! Ada yang sampai 40’C tapi baik-baik saja. 😊
Yang terpenting, tahu bagaimana perawatan di rumah ketika anak demam. Kejang demam gak perlu ditakutkan, tapi perlu diketahui bagaimana penanganannya untuk antisipasi.
Semoga Allah selalu melindungi dan memberi nikmat sehat untuk buah hati kita semua, aamiin ❤️


Wednesday, June 26, 2019

Anbiya 15 Bulan

Haloo, kali ini mama mau cerita tentang milestone Anbiya saat umur 15 bulan ☺️ 


Dari segi perkembangan fisik, Anbiya 15 bulan :
Tinggi 83 cm
Berat badan 10.5 kg.
Berat badan masuk kategori ideal, tapi karena Anbiya tinggi jadi kelihatan langsing 😂
Kalau dilihat dari kurva KMS / tabel WHO tetep sesuai on track ideal dengan usianya, jadi mama cukup tenang.


Oh ya ada cerita lucu ni, gara-gara Anbiya tinggi suka bikin salah sangka orang 😁
Banyak yang ngira Anbiya udah umur 2 tahun, kaget pas aku bilang baru 15 bulan. Ya ibu-ibu komplek, ya ibu-ibu yang baru ketemu di play ground bandara atau kidzoona.
Trus pernah ada yang nyeletuk, kok anak 2 tahun belum bisa jalan?
Hahahah plisss waktu itu Anbiya umurnya masih 13 bulan om, tante... ðŸ˜‚

Tentang kenaikan berat badan.. semenjak satu tahun itu jadi irit-irit banget naiknya. Ada di rentang 10-11 kg. Naik turun aja di situ terus.
Kata dsa, kalau sudah setahun emang lebih lambat sih naiknya. Idealnya itu dalam satu tahun naik minimal 2 kg. 
Jadi kalau sekarang Anbiya 10.5 kg, paling gak nanti saat Anbiya dua tahun berat badannya minimal sudah mencapai 12 kg. Semoga yhaa.. Aamiiiiiinn

MPASI
Untuk urusan makan, Anbiya dari awal mpasi termasuk gak sulit makan. Pernah ada masanya bosan, tapi mama cari-cari trik akhirnya mau lagi. Kalau cemilan kayak snack, buah, susu, yoghurt, itu hampir selalu mau. Yang suka bosan ditolak itu yang makanan berat. Tapi makin ke sini mama makin tahu sih apa makanan kesukaan Anbiya. Kayak udah tau di mana koentjiannya. Hihi

Nah pas umur 15 bulan, mama sempat berpikir Anbiya sedang growth spurt lagi, karena makannya super banyaakk dan lahap. Nyenengin banget kalau begini. Anbiya udah full makan sama seperti menu keluarga.
Sayur sop, sop ayam, sop tahu telur puyuh, sayur bening kayak bayam, oyong; sayur tumis kayak toge, kacang panjang, sawi, semua suka.
Ikan, ayam, tempe, tahu, dan terakhir kita coba ajak makan iga bakar eh doyan lahap juga hihi.
Telur aja yang kurang suka nih.
Kalau buah mostly suka semua, dan sekarang lagi seneng buah kiwi. Jadi stok itu terus di rumah.
Cemilan kayak pudding, biskuit, roti dengan selai kaya/srikaya atau selai kacang (mama pilih yang tinggi kalori bo hihi), yoghurt, dll. Oiaa mama beli selai kaya nya ini di simply organic. Jadi homamade dan fresh gitu. No artificial dan pengawet. Selai kaya ini selain enak juga bagus untuk nambah kalori anak karena komposisi utamanya itu santan dan kuning telur. Kalau selai kacang, dia juga tinggi kalori /serving 32 g 210kkal. Wow banget kan. Hahaa. Tapi selai kacang mama belum nemu yang homemade organik gitu jadi beli di supermarket aja yang merk Skippy.
Susu juga udah mulai mama kasih, ntah UHT atau susu pertumbuhan (sufor) bubuk. Kalau UHT, biasa minum morinaga chil-go. Pernah coba UHT plain macam ultra dan pasteurisasi greenfields malah diare, jadi gak mama terusin. Kalau sufor, setelah coba kesana-kemari akhirnya cocok Dancow dan Pediasure. Nanti mama review yaa tentang susu ini.
Oh ya susu ini belum rutin selalu mama kasih. Kadang kasih sehari 2x, 1x, pernah juga gak dikasih. Kalau mama udah kasih yoghurt, susu nya gak. Jadi memang susu tambahan ini sebagai pelengkap aja. Anbiya masih nenen ASI sama mama langsung dari gentongnya hehe.
Media pemberian susu tambahan ini pakai gelas digelek langsung atau straw cup.


Baca Juga : Cerita MengASIhi 

Perkembangan Motorik


Akhirnya Anbiya bisa jalan sendiri di umur 15 bulan. Alhamdulillah 😊
Luar biasa rasanya menyaksikan tahap demi tahap akhirnya Anbiya bisa jalan.

Kalau diurutkan, perkembangan motorik kasar Anbiya dari tengkurap sampai berjalan :
- tengkurap telentang 6 bulan
- duduk sendiri 8 bulan
- merangkak 10 bulan
- berdiri berpegangan 11 bulan
- rambatan 12 bulan
- berdiri sendiri tanpa pegangan 14 bulan
- jalan 15 bulan

Saat ini Anbiya sudah 16 bulan, jalannya sudah lancar bangeet, udah bisa lari kecil-kecil. Udah hampir gak pernah merangkak lagi, jadi ke mana-mana jalan terus. Alhamdulillah sehat selalu yah nak.

Perkembangan Sosial Emosional
Anbiya 15 bulan pernah 2x nangis sampai lama banget berhentinya, ntah ini tantrum atau rewel biasa ya? Penyebabnya karena lagi asik berendem, tapi disuruh mama udahan karena udah terlalu lama. Dan satu lagi pas papa pamit kerja. Alhasil nangis gak karuan, digendong nolak-nolak, lengkungin badan ke belakang, sedih banget mama liatnya tuu.
Mama coba kasih penjelasan ke Anbiya dan tentunya kasih aktivitas lain sebagai pengalih perhatian, akhirnya kalem juga. Ya, anak mama udah tambah besar. Udah punya keinginan, udah tahu mau apa, ngapain, apa yang disuka, gak disuka. Walaupun bisa capek juga ngadepin pas lagi nangis gitu, tapi di sisi lain mama senang karena Anbiya udah bisa mengekspresikan emosinya: kesal, sedih, senang, excited, takut. Dan jadi pelajaran juga untuk mama serta papa, tentang gimana menyikapi anak, yang udah kayak bukan bayi lagi 🙈
Oh ya, di umur 15 bulan ini Anbiya juga mulai ngoleksi hot wheels 😆
Tiap ke mall kalau lihat lintasan hot wheels, udah excited banget dan mainan di sana deh.. hehe

Anbiya juga udah mulai bisa mengenali orang-orang terdekatnya. Kalau lihat foto, sudah bisa nunjuk mama yang mana, papa mana, kakek nenek, dst. Anbiya seneng banget kalau ketemu sama kawan sebayanya. Udah hapal juga sama tukang sayur dan bapak penjual roti yang suka lewat rumah hahaa. 



Kegiatan sehari-hari yang biasa mama papa lakuin juga dengan mudah Anbiya contoh. Suka ikut-ikutan nyapu rumah, nyapu halaman, ngelap meja, jemur pakaian. Gerakan sholat udah bisa angkat tangan “Allahu akbar” dan sujud, kalau berdoa ikut angkat tangan dan aamiin. Biasa kalau abis solat, mau tidur, mau makan, dan di mobil mau bepergian, Anbiya malah udah duluan angkat tangan untuk berdoa. Makin pintar dan jadi anak sholeh yah nak, inshaAllah. 


Perkembangan Bahasa
Tambah sering vokal, tapi mostly masih bahasa bayi.
Babababa
Dadadada
Papapapa
Mamama
Gagagagga
Engga
Nen
Mam
Belum banyak kosakata yang disebutkan dengan jelas. Tapi kalau diajak ngobrol, Anbiya udah ngerti. Misal mama bilang,
“Tolong tutup pintu”
Anbiya langsung lakuin.
“Ayok baca buku”
Langsung ke rak dan pilih bukunya.
“Ayok kita main ke luar”
Langsung ambil sendalnya dan minta dipakein.


Udah bisa juga angguk-angguk artinya ya.
Geleng kepala artinya tidak.
Dan biasanya kalau meminta sesuatu, Anbiya nunjuk-nunjuk.

***
MasyaAllah gak kerasa udah panjang aja ni tulisan! 😆😆

Rasanya gak ada habisssnyaa jika mama boleh bercerita tentang Anbiya dan kehidupan sehari-hari mama sebagai seorang Ibu 😆

Okk deh, gitu aja kira-kira gambaran besar milestone Anbiya saat umur 15 bulan.
Semoga Anbiya selalu sehat, bahagia, dan dilindungi Allah SWT. Aamiin aamiin.... 

Tuesday, June 18, 2019

Kisah Merantau ke Palembang #2

Haiii.. kali ini aku mau cerita lagi kisah merantau ke Palembang part ke-2 nih hehehe

Kalau yang pernah baca part-1, di situ udah ku tulis kalau aku ikut suami yang lagi tugas membangun infrastruktur jalan tol trans Sumatera. 


Nah kalau dulu di part -1, masih cuma berduaan doang aku dan mas ghi. Belum hamil, belum ada anbiya. Tinggalnya juga masih di pelosok daerah, salah satu kabupaten di sumatera selatan.
Jauuhh banget sama yang namanya perkotaan. Gak ada mall, gak ada apa-apa, bahkan transportasi umum aja sangat sangat minim.

Sampai akhirnya aku hamil, dan saat usia kandungan 7 bulan aku balik ke Tangsel ke rumah orang tua sekalian melahirkan di sana.

Saat Anbiya lahir, bisa pas banget deh momennya. Mas ghi promosi jabatan jadi site manager, trus proyek yang di banyuasin udahan, kemudian pindah lokasi ke pusat kota! 
Kota Palembang 🤗
Masih tetap ngerjain tol yang sama, cuma pindah lokasi / section aja. Otomatis tempat tinggal kita juga pindah.
Alhamdulillah bener-bener rejeki anak banget.

Credit to: TripAdvisor

Jadi happy bangeet, pas Anbiya umur 4 bulan, mas ghi ajak kita lagi untuk ikut, dan posisinya kita udah gak di pelosok lagi!
Tapi tinggal di kota.
Jadi akses ke mana pun sangat mudah, butuh apa aja gampang. Fasilitas umum seperti rumah sakit kalau mau imunisasi dan check up Anbiya ada banyak, trus air juga bersih beda banget sama di banyuasin dulu.

Baca Juga : 2018 Highlights

Selama di Palembang ini kita urus Anbiya berdua aja, kalau mas ghi kerja ya aku cuma di rumah berdua doang sama Anbiya. Alhamdulillah nya, mas ghi itu orangnya cekatan banget dan terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga kayak nyapu, ngepel, cuci baju, bahkan masak. Sebelum berangkat kerja, saat aku urus Anbiya, mas ghi pagi-pagi belanja ke pasar sekalian olahraga sepedahan trus masakin buat kita sarapan dan makan siang aku. Huhuu so sweet banget. Trus pulang kerja walaupun udah malem jam 8-an, tetep lanjut nyuci baju dan kalau aku belum sempet ngepel, pasti dibantu pel juga.
Pokoknya mas ghi selalu sigap dan punya inisiatif sendiri.
Alhamdulillah walau gak ada art, semua masih bisa terhandle saling bahu membahu. Paling setrika baju aja yang kita bawa ke laundry. Sebenarnya dari kantor sudah disediakan fasilitas laundry, tapi mas ghi lebih pilih cuci baju sendiri ajaa, nah kalau setrika baru deh sama orang laundry.
Trus aku ngapain aja di rumah? Nanti yah, aku juga mau cerita tentang kisah ku menjadi ibu rumah tangga. Hehee 😊

Kita di sini tinggal ngontrak rumah (yang diprovide sama kantor), di perumahan yang emang banyak dijadiin mess karyawan juga. Untuk urusan rumah, aku gak banyak kriteria sih. Gak besar gpp, yang penting rumahnya itu sehat, banyak ventilasi cahaya terutama di kamar tidur, sirkulasi bagus. Sebelum di sini, malah kami sempat tinggal di bedeng (rumah petak) yang sempiit sekali.

Trus beruntungnya, pemilik rumah ku ini sebelahan persis, dan udah anggep kayak keluarga sendiri. Jadi kalau mas ghi lembur atau ada dinas luar kota berhari-hari, aku ngerasa aman aja ditinggal. Mereka juga orang Padang, jadi aku merasa dekat aja gitu.. (karena aku ada darah padang). Dan kalau sama Anbiya, mereka senang dipanggil dengan sebutan “kakek-nenek” juga. Tetangga sini juga pada baik 😊


(Dapur! 🤗 Jantungnya rumah. Salah satu tempat untuk me-time a.k.a main masak-masakan 😆).

Kita di sini ngontrak, karena emang gak berniat beli rumah di sini. Hehe mas ghi kan selesai proyek tol sini pasti pindah ke proyek selanjutnya di lain daerah. Jadi gak akan menetap di Palembang. Atau bisa juga ditempatkan di kantor pusat (Jakarta). Aamiin! Makanya kita beli rumah di Tangsel aja.

Kalau ditanya betah gak tinggal di Palembang? Selain karena dekat dengan suami, tentu jawabannya betah, betah banget! I love this city! Ya suasananya, kulinernya, budayanya, semuanyaa.. walaupun di sini gak ada sanak saudara..
Mas ghi dapat jatah cuti setiap dua bulan sekali. Jadi biasanya pada waktu cuti itu kita manfaatin untuk pulang ketemu orang tua atau pergi jalan-jalan.
Mas ghi kerja full senin-jumat, hari sabtu setengah hari sampai jam 14.00. Jadi setelah itu biasanya kita nikmatin waktu ngabisin weekend bersama. Pagi jalan kaki ke stadion jakabaring atau kambang iwak, ajak Anbiya main, atau juga sepedahan. Trus cari sarapan di luar, di pempek pak raden kalau pagi komplit sediain menu sarapan khas palembang beraneka ragam. Dan kalau weekend rameeeee banget. Biasa kita suka sarapan di sana, atau di soto kampus jl. Pom. Trus siang atau sore nya keluar lagi jalan-jalan ke mall atau dinner sekalian sat-night. Hehe. Tapi ada juga kalanya kita pilih quality time saat weekend di rumah aja untel-untelan dan nge-gofood. 🥰


Kota Palembang ni makin lama makin maju, udah berasa di kota besar. Sering juga lho konser-konser diadain di Kota Palembang, kayak MLTR. Trus bulan Agustus besok Westlife! Huhu pengiinnn banget nonton, tapi gak boleh bawa bayi kan. Udah kroscek, anak boleh masuk minimal umur 4 tahun. Sedangkan kita di sini gak ada saudara yang bisa diminta tolong titip Anbiya sebentar 😂😆.

Belum tahu sampai kapan di Palembang, yang jelas sampai proyek tol ini berakhir.
Sekarang nikmati aja dulu dan merasa sangat bersyukur punya pengalaman tinggal di kota ini. Bersama suami tercinta (jadi supporter numero uno-nya suamii) dan buah hati kami.. ❤️