SOCIAL MEDIA

Monday, July 15, 2019

Kejang Demam dan Roseola Infantum

Anbiya pernah mengalami kejang demam karena infeksi virus Roseola Infantum ketika umur 10 bulan. Kejadian ini udah cukup lama, sekitar tujuh bulan yang lalu, tapi aku baru cerita di blog sekarang, karena kemarin-kemarin rasanya masih trauma banget!

Di blog post ini, aku mau sharing pengalaman apa yang harus dilakukan ketika anak kejang demam dan bagaimana penanganan jika kejang demam terulang, serta sedikit tentang virus Roseola Infantum.

Anbiya 10 bulan kejang demam


***

Waktu itu hari Jumat pagi di bulan Desember, Anbiya bangun tidur badannya terasa panas. Langsung aku cek dengan termometer, ternyata benar demam 38.8’C.
Aku kasih paracetamol, pakaikan baju yang tipis, skin-to-skin contact, dan susuin lebih sering, tapi sampai malam harinya tetap demam, bahkan mencapai 39’C.
Akhirnya ku putuskan besok langsung ke dokter karena demam tinggi nya secara mendadak dan gak turun-turun.

Hari Sabtu pagi nya, lagi siap-siap mau ke RS. Anbiya udah rapih, lagi digendong dulu sama mpok (ART) pakai kain jarik.
Trus tau-tau mpok teriak histeris karena terjadi sesuatu sama Anbiya.

Kejang demam!

Badannya semua meregang, kejut-kejut, matanya ke atas, bibir biru.

Ya Allah, lemessss.. Rasanya jantung ku kayak berhenti saat itu.

Pertolongan pertama yang ku lakukan: lepaskan Anbiya dari gendongan, melonggarkan pakaian, menenangkan tapi tidak menahan gerakan kejang.
(Thanks my sisteerrr teh icha yang pernah sharing penanganan anak kejang, jadi gak clueless amat saat itu).

Ini jadi pelajaran banget buat aku: kalau lagi demam tinggi, anak pakai baju, jangan digendong terkungkup dengan kain gituu. Tambah sumuk. Tambah panas.

Kecuali gendong skin-to-skin contact ya.

Kejang demam nya ini sebentar gak sampai 1 menit, setelah itu langsung segera bergegas ke RS.

***

Sampai di IGD, dokter jaga cek suhu nya 39.5’C. Berarti saat terjadi kejang ya lebih tinggi lagi dari itu suhunya, mungkin mencapai 40 atau lebih.

Trus Anbiya dikasih penurun panas yang dimasukin lewat anus dan cek darah untuk screening.

Waktu itu hasil darahnya negatif db, negatif tipes, cuma memang ketahuan ada infeksi tapi belum tau apa. Oh ya, dari hasil lab ini juga ketahuan kalau Hb Anbiya agak rendah.


Mau diambil darah


Trus DSA Anbiya visit ke IGD, aku banyak nanya-nanya tentang kejang demam yang barusan dialami Anbiya.

Menurut DSA, kejang demam ini umum terjadi pada anak 6 bulan - 5 tahun. Bisa kena pada siapapun, tapi kalau pihak keluarga pernah ada riwayat kejang demam, kejadiannya bisa lebih tinggi.

Naahh memang dulu waktu aku bayi juga pernah kejang demam. Sampai 2x malah. Keponakan dan sepupu ku juga pernah kejang demam. Jadi memang ada riwayat kejang demam dalam keluarga (inherited).

Kejang demam termasuk kejang sederhana, tidak berbahaya, tidak menyebabkan kerusakan sel-sel otak, karena kejadiannya pun singkat sekali rata-rata kurang dari satu menit. Beda dengan epilepsi.
Oleh karena itu, pasien kejang demam tidak disuruh pemeriksaan lanjutan seperti EEG atau CT scan.
Memang respon tubuh terhadap tingginya suhu aja.

Ciri-ciri kejang demam :
  • Sesuai namanya, HANYA terjadi saat demam
  • Waktu kejang singkat biasanya beberapa detik/ < 1 menit
  • Tidak berulang dalam waktu 24 jam
  • Langsung kembali normal setelah kejang berhenti
Nah itu ciri-ciri paling gampangnya, kalau bedain dengan epilepsi, biasanya kejang epilepsi bisa terjadi kapan pun (tidak saat demam), waktu kejang yang lama bisa sampai 15 menit-an, dan bisa berulang dalam 24 jam. 

Kemudian, jika kejang demam terjadi pertama kali apa yang harus dilakukan ?
  • Longgarkan atau jika memungkinkan lepas pakaian. Supaya gak sumuk. Jika digendong, lepaskan dari gendongan.
  • Jangan menahan gerakan kejang, jadi lebih baik dibaringkan di kasur, sambil kita menemani/ menenangkan disebelahnya.
  • Jangan memasukan benda apapun ke dalam mulut (sendok, kain, dll) karena khawatir menghalangi jalan nafas.
  • Tidak perlu panik berlebih, kejang demam ini sangat singkat, segera bawa ke IGD. Kondisi setelah kejang demam anak akan kembali normal seperti biasa.

Bagi anak yang pernah kejang demam, dokter akan bawain “bekal” obat anti kejang dan diazepam. Karena bisa kembali terulang sampai umur 5 tahun. Tapi gak selalu yaa. Ada kok yang cuma kejang demam 1x aja seumur hidupnya. Semoga aja sih gak terulang lagi pada Anbiya. Tapi kita mesti antisipasi dan tahu penanganan jika terulang kembali.

Jika demam :
  • Berikan paracetamol oral setiap 4 jam sekali. Jika demam tinggi gak turun-turun, bisa berikan obat penurun panas yang dimasukan lewat anus, dengan jarak 2 jam dari paracetamol oral.
  • Jika demam > 38.5 ‘C , berikan obat anti kejang (racikan dokter).
  • Saat kejang demam terjadi lagi, segera berikan stesolid (diazepam) lewat anus.
  • Dan penanganan demam pada umumnya seperti skin to skin contact, menggunakan pakaian tipis, kompres, dan yang penting perbanyak cairan masuk. Karena, musuh utama demam sebenarnya adalah dehidrasi. Bukan kejang demam.

Nah singkat cerita, setelah 3 hari demam tinggi gak turun-turun, akhirnya hari ke-4 suhu tubuh mulai turun dan stabil.
Di saat suhu turun, tiba-tiba muncul gejala:
  • ruam merah pada wajah dan punggung

Saat DSA visit dan periksa kondisi Anbiya, beliau bilang kalau ruam-ruam ini disebabkan oleh virus. Virus Roseola Infantum. Jadi akhirnya ketahuan laah penyebab demam tinggi 3 hari sampai kejang demam karena apaaa.

DSA juga bilang, kalau ruam merah ini akan hilang dengan sendirinya dalam waktu 48 jam. Alhamdulillah Anbiya 24 jam udah ilang semua ruam nya. Mungkin karena ruam yang muncul ini juga termasuk sedikit ya, jadi lebih cepat hilangnya.

Roseola ini banyak yang keliru sama campak. Padahal berbeda bangeett. Gampangnya sih bedain ruam roseola muncul setelah demam turun, sedangkan ruam campak muncul saat sedang demam tinggi. Dan campak biasanya disertai dengan komplikasi, makanya campak ada vaksinasinya kan. Roseola gak ada.

Nah di bawah ini tabel ilustrasi perbedaan campak, rubella, dan roseola. Gejalanya sama-sama ada ruam, tapi penyakitnya berbeda.


Yes, Roseola panas tingginya mendadak banget!!! (pic source: ibupedia)

Kalau udah keluar ruam roseolanya ini malah udah bisa tenang, udah mau sembuh istilahnya dan gak akan naik lagi panasnya. Makanya esok harinya juga Anbiya udah dibolehin pulang.

Ruam setelah demam tinggi 3 hari (Roseola) ini sebenernya seriiinggg banget terjadi sama bayi dan anak-anak. Bahkan ada yang kejadian tanpa sadar. Sebetulnya gak perlu khawatir, home treatment aja udah cukup. Tapi karena Anbiya ada kejang demam makanya perlu observasi.






Sebelum ketahuan karena Roseola, Anbiya juga melakukan screening ISK (infeksi saluran kemih). Karena ISK ini juga banyak kasusnya pada bayi laki-laki dan bisa menyebabkan demam tinggi juga. Tapi alhamdulillah hasil cek urin semua bagus. Jadi bukan karena ISK.
Oh ya, untuk anak bayi, cara ambil sampel urin nya gampang ternyata, karena ada alatnya ditempelin gitu bahan plastik seperti pakai koteka. Nanti pas pipis ketampung di situ deh, gak perlu nungguin dan nampung manual.



Ini pas demam udah turun, udah lepas infus, boboknya udah puleesss banget


Ada playground khusus anak rawat inap, jadi gak bosan di kamar (ACC dokter dulu)


***

Okaay, sekian sharing ceritanya yang aku buat sesingkat mungkin, semoga bisa bermanfaat 😊🙏🏻

Yang Anbiya alami ini, kejang demam karena infeksi virus Roseola Infantum. 
Pada dasarnya, setiap infeksi apapun baik itu karena virus atau bakteri, yang bikin sampai demam tinggi, berpotensi bikin kejang demam. 

TETAPIIII, kalaupun demam tinggi, bukan berarti akan berujung kejang demam kok! Ada yang sampai 40’C tapi baik-baik saja. 😊
Yang terpenting, tahu bagaimana perawatan di rumah ketika anak demam. Kejang demam gak perlu ditakutkan, tapi perlu diketahui bagaimana penanganannya untuk antisipasi.
Semoga Allah selalu melindungi dan memberi nikmat sehat untuk buah hati kita semua, aamiin ❤️


No comments :

Post a Comment